sponsor

sponsor

news

madiun

ngawi

Life & style

magetan

lifestyle

Pariwisata

» » » » Garam Langka, LIK Magetan Tutup Total

MAGETAN(KR) Imbas kelangkaan garam, tidak hanya menimpa rumahtangga, industri makanan, dan peternak sapi. Tapi juga industri penyamakan kulit di Lingkungan Industri Kulit (LIK) Magetan.
Praktis dengan sulitnya mendapatkan garam sebagai bahan pengawet kulit, sudah sejak tiga bulan lalu sejumlah pabrik penyamakan kulit di LIK Magetan tutup.
"Kita sudah berusaha mendapatkan garam grosok untuk proses pengolahan kulit sampai keluar daerah, tapi tidak berhasil. Ini sudah tiga bulan pengusaha penyamak kulit kesulitan untuk mendapatkan garam sebagai bahan pengawet dan pengolah kulit," kata Hadi Pramana "Ipong", pengurus Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Magetan kepada Surya, Senin (10/7/2017).
Garam, lanjut Ipong, bahan utama untuk penyamakan kulit, mulai sebagai bahan pengawet dan proses pengolahan kulit. Lantaran itu, begitu garam menghilang dari pasaran, pengusaha penyamak kulit yang tergabung dalam APKI Magetan, hampir seluruhnya menghentikan produksinya. Ini lantaran pengusaha penyamak kulit tidak ingin semakin merugi.
"Garam mahal, kalau ada barangnya. Tidak menjadi masalah. Tapi sudah mahal, barang tidak ada. Daripada semakin merugi, kami tidak ingin beli kulit. Kebetulan juga kulitnya juga masih belum ada," ujar Ipong.
Disebutkan Ipong, setiap memasak sebanyak 1,5 ton kulit, membutuhkan dua kuintal garam grosok dengan biaya di kisaran Rp 200 ribu. Tapi sejak masuk bulan Januari 2017 lalu, harga garam sudah mulai naik dan barang menghilang.
"Sebelumnya, sekali proses masak kulit menghabiskan biaya Rp 200 ribu untuk membeli dua kuintal garam. Tapi sekarang, sejak tiga bulan laku, biaya memasak kulit mencapai Rp 500 ribu dan satu bulan ini mencapai Rp 800 ribu," jelas Ipong seraya mengatakan dari pada merugi, pengusaha memilih menutup pabrik pengolahan kulitnya.
Sementara Unit Pelaksan Teknis (UPT) Industri Kulit dan Produk Kulit Disperindag Provinsi Jatim di Magetan, mengakui dengan berhentinya pengolahan kulit di LIK yang dikelolanya, otomatis tidak mendapat kontribusi pelayanan dari LIK.
"Soal kelangkaan garam itu sudah kami ketahui. Dengan langkanya garam, UPT Industri Kulit dan Produk Kulit tidak mendapat masukan dari jasa pelayanan di LIK Magetan. Ini karena hampir seluruh pabrik di LIK tutup," kata Marwan karyawan UPT Dispetindag Provinsi Jatim di Magetan kepada Surya, Senin (10/7/2017).
Seperti diberitakan, sejak tiga bulan lalu, keberadaan garam grosok di wilayah Magetan sulit ditemui.
Praktis dengan kelangkaan garam itu harga garam melonjak hingga delapan kali lipat dibandingkan sebelumnya. Saat ini di wilayah Magetan harga garam mencapai Rp 8000 - Rp 10.000 per kilogram.
Sementara di pedagang besar Magetan, harga garam kisaran Rp 5700 - Rp 7000 per kilogram. Meski pedagang berusaha mendatangkan dari Pati, Jawa Tengah, Madura dan Pasuruan. Tapi pedagang pemasok garam juga tidak bisa menjanjikan. Karena daerah yang menjadi lumbung garam, tidak ada lagi punya persediaan.
Sedang PT Carma Kulit Jatim, perusahaan BUMD Provinsi Jatim yang khusus mengolah kulit kambing dan domba, masih bisa menyamak kulit karena dipasok garam dari Provinsi Jatim.
"Ini baru menyamak.kulit, kita sudah libur satu bulan. Masalahnya saya rasa sama dengan pengusaha kulit di LIK, yaitu kesulitan mendapatkan garam. Kami hanya dikirimi garam sedikit, ini pun permintaan satu bulan lalu. Kalau garam ini habis, yang pasti libur lagi,"kata Jumadi yang ditemui di PT Carma Kulit Jatim.
sumber (http://jatim.tribunnews.com/2017/07/10/garam-langka-lik-magetan-tutup-total )

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply