sponsor

sponsor

news

madiun

ngawi

Life & style

magetan

lifestyle

Pariwisata

» » » » Mensos Minta Relokasi, Salurkan Rp1,34 M




PONOROGO (KR) – Tragedi tanah longsor yang melanda Ponorogo, Jawa Timur, menjadi perhatian berbagai kalangan. Kemarin, Minggu (2/4), Sejumlah pejabat negara meninjau lokasi bencana di kota reog tersebut. Di antaranya Menteri Sosial Khofifah, Wakil Gubernur Jartim Saifulah Yusuf, dan Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin.

Proses pencarian korban tertimbun longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo dihentikan sementara karena hujan deras.

"Cuaca sangat tidak mendukung, apalagi sudah malam. Ini akan membahayakan bagi tim SAR dalam proses pencarian, selain itu dalam kondisi seperti ini masih sangat mungkin terjadi pergerakan tanah," kata Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo, Setyo Budiono, Minggu (2/4/2017).

Menurutnya seluruh proses pencarian korban yang menggunakan alat berat maupun secara manual, juga tidak akan dilakukan pada malam hari. Rencananya pencarian korban akan dilanjutkan Senin (3/4).

Budi menambahkan, hingga Minggu sore jumlah korban yang berhasil ditemukan dua orang, yakni Katemi (70) dan cucunya Iwan (30). Keduanya ditemukan dalam kondisi tertimbun material tanah dan reruntuhan bangunan.

Sementara ratusan korban selamat masih berada di lokasi pengungsian yang tersebar di beberapa titik. Pemerintah menjamin seluruh kebutuhan logistik para pengungsi tersedia melalui posko tanggap bencana dan dapur umum.

Bantuan
Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sosial senilai Rp1,34 Miliar bagi korban tanah longsor di Kabupaten Ponorogo tersebut. Rinciannya, Rp832 juta berupa bantuan logistik terdiri dari paket lauk pauk, family kid, food ware, selimut woll, matras, tenda gulung, tenda keluarga dan sandang paket. Sementara sisanya disiapkan untuk santunan ahli waris korban meninggal atau hilang sejumlah masing-masing Rp15 juta dan maksimal Rp5 juta untuk korban luka.

"Sesaat setelah kejadian, Taruna Siaga Bencana (TAGANA) langsung dikerahkan untuk membantu evakuasi," ungkap Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat meninjau lokasi bencana, Minggu (2/4/2017) pagi .

Tidak hanya dari wilayah Ponorogo, kata Khofifah, namun juga dari wilayah sekitar seperti Probolinggo,Trenggalek, Nganjuk, Pacitan, Magetan, Kabupaten Madiun dan Kota Madiun. Selain Tagana juga dikerahkan anggota Kampung Siaga Bencana (KSB) Ngebel.

Diutarakan Khofifah, Tagana yang dikerahkan bertugas mendirikan sekaligus mengelola dapur umum lapangan guna memenuhi kebutuhan logistik korban bencana dan serta relawan.

Dari data sementara Kemensos, hingga kini masih ada 28 orang korban yang tertimbun, sementara yg berhasil selamat yaitu sebanyak 20 orang luka ringan dan tiga orang luka berat. Adapun jumlah rumah yang tertimbun material longsor sebanyak 32 rumah.

Nama korban hilang berdasar rilis yang dikeluarkan BPBD Ponorogo yaitu Litkusnin (Lk , 60), Bibit, (Pr, 55), Fitasari (Pr, 28), Arda, (Lk, 5 th), Janti (Pr, 50 th), Mujirah (Pr, 50 th), Purnomo (Lk, 26 th), Suyati (Pr, 40 th), Poniran (Lk, 45 th), Prapti (Pr, 35 th), Cikrak (Pr, 60 th), Misri (Pr, 27 th), Anaknya misri (Pr, 3 th), Sunadi (Lk, 47 th).

Korban lainnya Katemi (Pr, 70 th), Iwan (Lk, 30 th), Katemun (Lk, 55 th), Pujianto (Lk, 47 th), Siyam (Pr, 40 th), Nuryono (Lk, 17 th, Menik (Lk, 45 th), Kateno (Lk, 55 th), Muklas (Lk, 48 th), Jadi (Lk, 40 th), Suyono (Lk, 35 th), Suroso (Lk, 35 th), Tolu (Lk, 47 th), Situn (Pr, 45 tahun).

Proses evakuasi yang dilakukan Tagana bersama relawan gempa lainnnya dihentikan semalam, Jumat (1/4/2017) dikarenakan faktor cuaca, kondisi tanah masih terus bergerak dan tidak adanya penerangan karena listrik mati. Selain itu juga karena tidak adanya alat berat guna menyingkirkan material longsor.

Harry Hikmat Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial, mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat yang terdampak Kemensos mendorong Pemkab segera menerbitkan SK tanggap darurat. Dengan demikian Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 100 ton bisa segera dicairkan dan jika dibutuhkan akan ditambahkan CBP dari alokasi propinsi dan Kementerian Sosial.

Kemensos, kata Harry, juga menyiapkan tenaga pendamping psikososial dan Tim Reaksi Cepat guna mengatasi trauma bagi korban tanah longsor, terutama keluarga korban yang masih dinyatakan hilang.

Relokasi Korban 
Khofifah mempertimbangkan opsi relokasi kepada seluruh korban dan pemukiman di sekitar lokasi tanah longsor. Mengingat daerah tersebut menyandang status rawan bencana.

Khofifah menilai bencana tanah longsor dipicu meningkatnya lahan kritis, berkurangnya tutupan lahan, degradasi lingkungan, berkurangnya resapan air dan pertanian yang tidak memerhatikan konservasi lingkungan.

Oleh karena itu, lanjut dia, perlu upaya terstruktur, sistematis, dan massif dalam menangani persoalan ini. Masyarakat pun perlu ditingkatkan perilaku sadar bencana. Dikatakan Khofifah, pengetahuan bencana pada masyarakat relatif meningkat namun belum menjadi sikap dan perilaku serta budaya masyarakat.

Untuk mencegah longsor kembali, lanjut Khofifah, perlu dilakukan reboisasi terhadap sejumlah lahan kritis. Dampaknya, tidak hanya mengurangi potensi tanah longsor, namun juga meningkatkan kualitas air, menaikkan posisi muka air tanah, penyediaan air saat kekeringan, dan konservasi sumber daya air tanah.

"Perlu upaya berkelanjutan yang melibatkan semua pihak sehingga kejadian seperti ini tidak terulang," kata Khofifah.

Prioritas Utama 
Sementara itu, Wagub Jatim Drs. H. Saifulllah Yusuf menegaskan perlunya tindakan evakuasi sebagai prioritas pertama dalam penanganan longsor di Ponorogo yang kedalaman timbunan mencapai 17 meter. 

 “Prosesnya dipastikan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tetapi harus dilakukan secepat mungkin,” ujarnya saat meninjau lokasi bencana longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Minggu (2/4) siang.

Untuk itu, Gus Ipul sapaan lekat Wagub Jatim mengimbau masyarakat agar tidak mengganggu selama proses evakuasi. Evakuasi akan dilakukan dengan mengerahkan semua potensi potensi seperti tenaga medis dan tenga tenaga terlatih seperti TNI, Polri, dan relawan. “Mari kita serahkan proses evakuasi kepada yang pihak yang terlatih seperti TNI, Polri dan relawan,” ujarnya. 

Selain proses evakuasi, lanjutnya, pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi dan korban yang selamat menjadi hal yang penting. Banyak pihak yang sudah ikut membantu seperti makanan, minuman, dokter dan obat-obatan. Ia memberi contoh Kapolda Jatim yang ikut memberi bantuan berupa empat truk berisi makanan minuman, lima tangki air bersih, serta personil terlatih.  

Mengingat potensi hujan yang diperkirakan masih tinggi, Gus Ipul juga minta masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor agar tak sekedar waspada. Bila perlu  segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. 

Rencana ke depan, pihaknya beserta Bupati Ponorogo akan membahas relokasi warga. Ada dua hal yang bisa dilakukan yakni relokasi sementara agar pengungsi mendapatkan tempat yang baik, atau relokasi secara permanen. Karena itu, untuk realisasnya dibutuhkan bantuan dari banyak pihak termasuk Perhutani. 

“Jadi relokasi sementara dulu yang bisa dilakukan mengingat jumlah pengungsi sebanyak 100-200 orang yang tinggal di saudara dan tetangga. Dicarikan tempat dulu sementara yang layak, baru dipikirkan tempat permanen bagi para pengungsi,” imbuhnya.

http://m.beritametro.news/Ponorogo/mensos-minta-relokasi-salurkan-rp134-m

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply