Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Harga Kedelai Meroket, Pengrajin Tempe di Ngawi Kurangi Ukuran

     NGAWI (KR) -  Kenaikan harga kedelai saat ini membuat para pengrajin tempe di Ngawi harus memeras otak  untuk tetap bisa mempertahankan kelangsungan usaha mereka.
    Demi tetap bertahan, para pengrajin tempe ini terpaksa harus mengurangi ukuran atau kemasan tempe  dengan tetap mempertahankan kualitas dan harga.
    Seperti yang dirasakan Jumilah pengrajin sekaligus pedagang tempe asal Dusun Sadang, Desa Karangtengah Prandon, Kecamatan Ngawi Kota, ini tidak menampik jika ukuran tempe yang dibuatnya sepekan terakhir menyusut dari biasanya. Alasanya, harga kedelai kwalitas impor sekarang ini sudah tembus Rp 7.300 per kilogram padahal sepekan sebelumnya hanya berkisar Rp 7.000 per kilogram.
    “Kalau harga setiap bungkus tempe masih sama seperti waktu-waktu sebelumnya. Hanya saja sekarang ini yang saya kecilkan sedikit itu kemasanya. Karena kalau harga dinaikan menyesuaikan harga bahan baku kedelai jelas mereka (konsumen-red) akan mengeluh khawatirnya lagi mereka malah tidak beli sama sekali,” terang Jumilah.
    Kata Jumilah, memang selama ini lokasi tempat tinggalnya sangat dikenal dengan sentra home industry tempe maupun keripik tempe di Kabupaten Ngawi. Namun demikian pasca kenaikan harga kedelai sejauh ini belum ada keluhan berati dari para pengrajin tempe itu sendiri yang jumlahnya mencapai ratusan orang tersebut.
    Seperti dirinya saja, jumlah produksi tempe maupun penjualan hasil kerajinanya itu masih stagnan di pasar. Artinya, kata Jumilah tidak ada penurunan jumlah konsumen maupun pengurangan produksi setiap harinya. Terbukti, setiap hari Jumilah masih memproduksi tempe dengan bahan baku kedelai sebanyak 75 kilogram. Dan itupun dirinya harus mempekerjakan dua orang dengan upah sekitar 10 ribu dalam sekali produksi.
    Sementara itu Jamil salah satu pedagang kedelai di Dusun Sadang mengungkapkan, meskipun ada kenaikan harga kedelai sesuai jenisnya penjualan setiap satu pekanya masih mampu menjual sekitar 8,5 ton kedelai. Dan jenis kedelai yang ia jual semuanya kwalitas impor baik merek bola maupun pagoda. Untuk kedelai merek bola sekarang ini tembus Rp 7.300 per kilogram sedangkan pagoda masih berkisar Rp 7.200 per kilogram.
    “Setahu saya ini penjualan masih sama meski harga naik dan semua kedelai yang saya jual disini barang impor tidak ada kedelai lokal. Untuk penyebab naiknya harga kedelai saya sendiri tidak tahu soalnya ketika beli dari agen atau distributor itu naik otomatis saya naikan juga,” jelas Jamal.:http://kanalindonesia.com/harga-kedelai-meroket-pengrajin-tempe-di-ngawi-kurangi-ukuran/.

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728