Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Bencana di Ponorogo: Masyarakat Terdampak Berharap Bantuan

    PONOROGO (KR) - Bencana alam di Ponorogo sejak awal Januari hingga Desember 2016 ini, meski dalam skala kecil, namun cukup sering. Mau tidak mau, mengakibatkan kerugian bagi para korban. Tidak jarang seperti kehilangan rumah akibat tanah gerak, longsor, maupun puting beliung.


    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Bediyanto, menjelaskan, total kerugian material akibat bencana mencapai Rp 32,9 miliar. Bencana yang dapat menyebabkan kerugian paling banyak mulai dari banjir, kemudian tanah longsor, tanah gerak, dan terakhir puting beliung. Sementara itu, aksi sosial yang dilakukan masyarakat dinilai memiliki sisi negatif.

    “Masyarakat terdampak menjadi malas bekerja dan hanya berharap bantuan. Padahal, mereka tidak banyak terdampak,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (27/12/2016).

    Menurutnya, berbagai pemberitaan di media terkait bencana di Ponorogo hanya menimbulkan rasa belas kasihan yang berakhir dengan pemberian sumbangan kepada korban bencana serta membuat para korban jadi berharap uluran tangan masyarakat lainnya. Penyumbang kerugian material terbesar akibat bencana, yakni banjir. Meski banjir hanya sekadar air lewat di pemukiman warga, namun bisa merendam sawah milik para petani hingga berhari-hari. Inilah yang menyebabkan kerugian terbesar di sektor pertanian akibat banjir.

    “Curah hujan sepanjang tahun ini tinggi. Bencana banjir meningkat dibanding tahun lalu.” ujarnya.

    Kerugian terbesar kedua disebabkan tanah longsor. Mencapai Rp 8 miliar dengan 399 kejadian. Sedangkan kejadian tanah gerak hanya menimbulkan kerugian sekitar Rp 500 juta. Ia menyebut, bencana tanah gerak tidak banyak berdampak pada masyarakat. Bahkan, dia mengklaim, tanah gerak di Desa Talun, Ngebel, merupakan kejadian biasa. Sebab, tidak menimbulkan kerusakan pada rumah warga. Retakan yang terjadi berjarak cukup jauh dari pemukiman. Padahal, guguran tanah dan batu sudah sampai halaman rumah warga. Bahkan, dia menolak jika bencana di sana berpotensi membahayakan jiwa.

    “Membahayakan apa, lho. Wong di sana tidak terjadi apa-apa. Terdampak pun tidak sebenarnya. Saya siapkan tenda juga tidak ada yang mengungsi,” tuturnya sembari menyebut bakal menarik tenda darurat di sana segera.

    Menurut Bediyanto, sumbangan bagi korban bencana besarannya maksimal Rp 2 juta dan bencana rumah roboh maksimal Rp 5 juta. Setiap kali ada laporan bencana, ia meyakini, dalam 1x24 jam sudah memberikan bantuan makanan dan uang yang langsung diterimakan kepada masyarakat. Meski sempat ada beberapa korban bencana yang mengaku terlambat dalam menerima bantuan, Bediyanto berdalih karena kurangnya anggota dalam timnya sehingga keterlambatan bantuan terjadi.

    “Petugasnya cuma delapan, jadi wajar kalau telat. Mana bisa melayani semuanya tepat waktu?” pungkasnya. :http://www.cendananews.com/2016/12/bencana-di-ponorogo-masyarakat.html.

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728