Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Riwayatmu Ngawi ‘Napak Tilas’ Hingga Kini


    NGAWI (KR) Kabupaten Ngawi dilihat letak geografisnya satu wilayah yang berada paling barat di Propinsi Jawa Timur, sesuai sejarahnya daerah ini mempunyai catatan panjang berikut sekilas kupasanya. Ngawi yang berasal dari kata “awi” menunjukkan suatu tempat yaitu sekitar pinggir “Bengawan Solo” dan “Bengawan Madiun” yang banyak tumbuh pohon “awi”.
    Sebagaimana arti “awi” atau “bambu” mempunyai makna yang sangat bernilai antara lain,  dalam kehidupan sehari-hari bambu bagi masyarakat desa mempunyai peranan penting apalagi dalam masa pembangunan ini. Demikian pula sesuai masanya dulu, dalam Agama Budha , hutan bambu disebutkan merupakan tempat suci.
    Pada inti dasarnya disebut Ngawi satu wilayah yang dipenuhi hutan bambu maka dnegan kata “Awi” menjadi “Ngawi” untuk memperjelas nama dan sebutan daerah tersebut . Tentunya pemberian nama itupun bukan asal-asalan kemudian berlanjut nama Ngawi sebagai desa
    penambangan atau penyeberangan (naditira pradesa) ataupun sebagai daerah Swatantra.
    Tentunya sebutan Ngawi tidak lepas dari Prasasti Canggu yang menyebutkan awal ikhwal tentang  Ngawi dari masanya. Prasasti Canggu itu sendiri berupa lempengan tembaga berbentuk empat persegi panjang berukuran panjang 36,5 cm, lebar 10,4 cm. Prasati ini seluruhnya berjumlah 11 lempengan tetapi baru diketemukan 5 lempengen. Pada saat ini lempengan Prasasti Cangu tersebut berada di Museum Jakarta dengan kode E 54 C.
    Berdasarkan penelitian benda-benda kuno, menunjukkan bahwa di Ngawi telah berlangsung suatu aktifitas keagamaan sejak pemerintahan Airlangga dan rupanya masih tetap bertahan hingga masa akhir Pemerintahan Raja Majapahit. Fragmen-fragmen Percandian menunjukkan sifat kesiwaan yang erat hubungannya dengan pemujaan Gunung Lawu (Girindra).
    Namun dalam perjalanan selanjutnya terjadi pergeseran oleh pengaruh masuknya Agama Islam serta kebudayaan yang dibawa Bangsa Eropa khususnya belanda yang cukup lama menguasai pemerintahan di Indonesia, disamping itu Ngawi sejak jaman prasejarah mempunyai peranan penting dalam lalu lintas (memiliki posisi Geostrategis yang sangat penting).
    Dari 44 desa penambangan yang mampu berkembang terus dan berhasil meningkatkan statusnya menjadi Kabupaten Ngawi sampai dengan sekarang. Penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno dan dokumen sejarah menunjukkan beberapa status Ngawi dalam perjalanan sejarahnya :
    Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman Pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358 Masehi, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280).
    Selain itu Ngawi sebagai Daerah Narawita Sultan Yogyakarta dengan Palungguh Bupati – Wedono Monconegoro Wetan, tepatnya tanggal 10 Nopember 1828 M (tersebut dalam surat Piagam Sultan Hamengkubuwono V tertanggal 2 Jumadil awal 1756 AJ). Di era Kolonial Belanda, Ngawi sebagai Onder-Regentschap yang dikepalai oleh Onder Regent (Bupati Anom) Raden Ngabehi Sumodigdo, tepatnya tertanggal 31 Agustus 1830 M.
    Kemudian berlanjut pada asal usul penetapan hari jadi Ngawi, tentunya berangkat dari nama Van Den Bosch berkaitan dengan “Benteng Van Den Bosch” Di Ngawi. Benteng yang biasa disebut “Benteng Pendem’ ini dibangun pada Tahun 1839 – 1845 untuk menghadapi kelanjutan perlawanan dan serangan rakyat terhadap penjajah.
    Diantaranya di Ngawi yang dipimpin oleh Wirotani, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diketahui dari buku ”De Java Oorlog” karangan Pjf. Louw Jilid I Tahun 1894 dengan sebutan (menurut sebutan dari penjajah) : ”Tentang Pemberontakan Wirotani di Ngawi”. Bersamaan dengan ketetapan Ngawi sebagai Onder – Regentschap telah ditetapkan pembentukan 8 regentschap atau Kabupaten dalam wilayah Ex.
    Karesidenan Madiun akan tetapi hanya 2 regentschap saja yang mampu bertahan dan berstatus sebagai Kabupaten yaitu Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan. Adapun Ngawi yang berstatus sebagai Onder – Regentschap dinaikkan menjadi regentschap atau kabupaten, karena disamping letak geografisnya sangat menguntungkan juga memiliki potensi yang cukup memadai.
    Ngawi sebagai regentschap yang dikepalai oleh Regent Atau Bupati Raden Adipati Kertonegoro pada tahun 1834 (Almanak Naam Den Gregoriaanschen Stijl, Vor Het Jaar Na De Geboorte Van Jezus Christus,1834 Halaman 31).
    Dari hasil penelitian tersebut di atas, apabila hari jadi Ngawi ditetapkan pada saat berdirinya Onder – Regentschap pada tanggal 31 Agustus 1830 berarti akan memperingati berdirinya pemerintahan penjajahan di Ngawi, dan tidak mengakui kenyataan statusnya yang sudah ada sebelum masa penjajahan.
    Dari penelusuran 4 (empat) status Ngawi di atas, Prasati Canggu yang merupakan sumber data tertua, digunakan sebagai penetapan hari jadi Ngawi, yaitu pada tahun 1280 Saka atau pada tanggal 8 hari Sabtu Legi Bulan Rajab Tahun 1280 Saka, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1358 Masehi (berdasarkan perhitungan menurut Lc. Damais) dengan status Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira Pradesa.
    Sesuai dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ngawi dalam Surat Keputusannya Nomor 188.170/34/1986 tanggal 31 Desember 1986 tentang Persetujuan Terhadap Usulan Penetapan Hari Jadi Ngawi maka berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ngawi Nomor 04 Tahun 1987 tanggal 14 Januari 1987, Tanggal 7 Juli 1358 Masehi ditetapkan sebagai ”Hari Jadi Ngawi”. (*Ditulis ulang Didik Purwanto dari berbagai sumber*)

    Sumber : http://www.siagaindonesia.com/129315/riwayatmu-ngawi-napak-tilas-hingga-kini.html

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728