Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Bulog Gagal Stabilkan Harga Gabah, di Magetan Kurang dari Rp 3.000 per Kg


    MAGETAN (KR) Para petani di wilayah Magetan mengeluhkan harga gabah hasil penen mereka terus merosot hingga kurang dari Rp 3.000 per kilogram. Padahal, sesuai Inpres, harga pembelian Gabah Kering Panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram.
    Perum Bulog sebagai stabilisator harga gabah petani, sepertinya tutup mata dan telinga mengetahui kondisi petani ini. Akibatnya banyak petani semakin mengaku merugi menanam padi, tidak sebanding antara biaya tanam dan hasil panennya.
    "Harga gabah kering Panen sebulan lalu masih Rp 3.300 - Rp 3.200 per kilogram. Tapi sekarang ini, hari ini, hanya laku Rp 3.000 per kilogram," kata Joko Suprayitno, petani Dusun Jetis, Desa/Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan kepada SURYA.co.id, Minggu (10/4/2016).
    Musim hujan ini, lanjut Joko, petani serba kebingungan, dijual harga sangat rendah, kalau disimpan akan berjamur dan busuk, karena sulit mendapat sinar matahari untuk menjemur.
    Meski rugi, petani terpaksa harus merelakan hasil panennya itu dengan harga dibawah yang ditetapkan pemerintah.
    "Padahal musim hujan ini petani sedang butuh butuhnya dana untuk biaya tanam. Dari pada gabah hasil panen busuk tidak laku dan semakin rugi dan tidak bisa tanam. Berapa pun kita berikan kepada tengkulak," katanya.
    Ia berharap, pemerintah bisa membuat kebijakan yang benar benar bisa menguntungkan petani, bukan kolega Bulog dan tengkulak yang mempermaikan harga pupuk dan hasil panen petani.
    "Lihat hasil panen petani merosot disaat petani mau tanam. Sedang harga pupuk sudah mulai naik. Kasus ini terus berulang, padahal di zaman Pak Suharto, tidak ada yang berani mempermainkan harga pupuk dan gabah petani. Sekarang sepertinya malah ada kerjasama yang merugikan petani," kata Joko yang juga Ketua Pemuda Tani Jetis ini.
    Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Kabupaten Magetan Edy Suseno membenarkan merosotnya harga gabah hasil tanam petani di wilayahnya.
    "Bulog sebagai stabilisator harga gabah seperti tidak berfungsi. Dari seluruh hasil panen petani di wlayah Kabupaten Magetan, tidak sampai dua persen yang bisa diserap Bulog, itu kalau Bulog menjalankan fungsinya," kata Edy Suseno.
    Dikatakan Edy Suseno, sesuai Inpres 17 Maret 2015 lalu, harga pembelian Gabah Kering Panen (GKP) dengan kadar maksimum air 25 persen dan hampa maksimum 10 persen Rp 3.700 per kg di petani atau Rp 3.750 per kg di penggilingan.
    Lalu, Gabah Kering Giling (GKG) kualitas kadar air minimum 14 persen dan kotoran 3 persen Rp 4.600 per kg di penggilingan atau Rp 4.650 per kg di gudang Bulog.
    "Saya dapat kabar harga gabah kering sawah Rp 3000 per kilogram. Bagaimana petani bisa memulai tanam padi, karena harga pupuk tinggi, harga hasil panen sangat rendah," jelas Edy.
    Dikatakannya, Pemerintah Kabupaten Magetan sedang mengupayakan memperbanyak mesin pengiring, kalau gabah bisa dikeringkan. Hasil panen bisa disimpan saat harga rendah dan dijual saat dihargai sesuai standar harga beli pemerintah.
     
    "Pertanian mencari inovasi untuk pengeringan gabah selain dengan mesin pengering. Kalau gabah bisa disimpan, petani bisa juga mengatur harga, sesuai standar pasaran, tidak sampai merosot seperti sekarang ini," tandas Edy Suseno.   

    Sumber : http://surabaya.tribunnews.com/2016/04/10/bulog-gagal-stabilkan-harga-gabah-di-magetan-kurang-dari-rp-3000-per-kg

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728