Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Bulog Madiun Kesulitan Serap Gabah Petani Ngawi, Ini Penyebabnya


    NGAWI (KR) Penyerapan gabah petani sulit dilakukan oleh Perum Bulog Sub Divre IV Madiun, Jawa Timur, terutama di wilayah Kabupaten Ngawi.
    Kepala Bulog Sub Divre IV Madiun, Rahmat Syahjoni Putra, kepada wartawan di Ngawi, Senin (7/3/2016), mengatakan target penyerapan gabah di Kabupaten Ngawi pada musim panen kali ini sebanyak 40.000 ton.
    “Dari target tersebut, Bulog baru mulai menyerap pada beberapa hari terakhir dengan capaian sekitar 5 ton,” ujar dia.
    Menurut Rahmat, terdapat beberapa kendala dalam penyerapan gabah di Kabupaten Ngawi, di antaranya musim hujan yang intesitas hujannya cenderung tinggi, sehingga kondisi gabah sangat basah.
    Akibatnya Bulog kesulitan menampung gabah, apalagi kapasitas pengeringan gabah secara manual yang dimiliki di Gudang Bulog di daerah Keniten, Ngawi, terbatas menyusul banyaknya mesin pengering yang rusak.
    Faktor lainnya, tambah dia, Bulog juga kalah bersaing dengan pedagang dan pengepul gabah dari luar daerah. Sebab, pedagang selama ini lebih dominan mengendalikan harga gabah melalui berbagai jaringannya yang lebih kuat.
    “Di sisi lain, Bulog dibatasi oleh aturan pusat agar tidak terlalu ikut mekanisme pasar karena fungsi utama Bulog adalah menyiapkan stok untuk kepentingan publik seperti raskin dan bantuan bencana alam,” kata dia.
    Meski penyerapan gabah dan beras di gudangnya masih minim, pihaknya optimistis target yang ditetapkan akan tercapai.
    Untuk diketahui, target serapan total Bulog Sub Divre IV Madiun pada tahun 2016 mencapai 60.000 ton setara beras. Penyerapan tersebut diperoleh dari wilayah kerjanya yang meliputi Kabupaten Madiun, Ngawi, dan Kota Madiun.
    Hal itu karena ada perintah baru dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman baru-baru ini yang meminta Bulog untuk membeli seluruh gabah petani sesuai harga pembelian pemerintah (HPP).
    Adapun, standar harga pembelian pemerintah (HPP) ditetapkan sebesar Rp3.700 per kilogram untuk gabah kering panen (GKP). Sedangkan harga gabah di tingkat petani wilayah Ngawi berkisar Rp2.900 hingga Rp3.400 per kilogram.
    Dengan kondisi harga pembelian gabah yang lebih tinggi dari pasar, diharapkan petani lebih leluasa menjual gabah dan berasnya ke Bulog. Sehingga target serapan yang ditetapkan dapat tercapai.

    Sumber : http://www.madiunpos.com/2016/03/08/pertanian-ngawi-bulog-madiun-kesulitan-serap-gabah-petani-ngawi-ini-penyebabnya-698741

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728