Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Kasus DBD di Madiun Meningkat Tajam


    MADIUN (KR) - Jumlah pasien demam berdarah dengue (DBD) di RSUD Caruban, Kabupaten Madiun, Jawa Timur meningkat tajam selama sepekan terakhir.

    Ditengarai hal ini terkait tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah tersebut akhir-akhir ini. Jika akhir pekan lalu angka penderita penyakit yang disebabkan virus yang dibawa nyamuk aedes aegypti itu mencapai 37 kasus, akhir pekan ini jumlahnya bertambah menjadi 64 penderita.

    Sebanyak 42 di antaranya pasien positif mengidap Dengue hemorrhagic fever (DHF), sedangkan 32 lainnya dinyatakan positif Dengue fever (DF). Kabag Humas RSUD Caruban Yoyok Andi Setyawan menyatakan, jumlah itu lebih banyak dibandingkan pada bulan sama tahun lalu. Pada 2015, pasien DBD di RSUD Caruban hanya 28 penderita.

    ”Dipastikan, jumlah penderita ini akan terus meningkat seiring makin tingginya intensitas hujan yang turun di wilayah Kabupaten Madiun,” ujarnya kemarin. Dokter Spesialis Anak RSUD Caruban Roni AP Tamba mengatakan, dari jumlah pasien yang ada, mayoritas penderita adalah anak-anak. ”Daya tahan tubuh anakanak lebih rentan terkena virus. Selain itu, pola tidur anak juga memengaruhi, karena nyamuk DB lebih aktif pada pagi dan sore hari, tepat dengan jam tidurnya anak-anak. Itu yang mesti diwaspadai,” kata dia.

    Karena itu, Roni meminta warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan penyakit ini. Dia juga meminta warga melakukan Gerakan 3M (menguras, menutup, menimbun) di setiap sudut kawasan di tempat tinggal masingmasing. Gerakan ini harus dilakukan secara serentak, karena bisa jadi satu rumah bersih dan rumah lainnya yang tidak bersih rumah, rawan menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti yang menularkan penyakit DBD lewat gigitannya.

    ”Yang jelas, penyakit DBD disebabkan virus yang ditimbulkan oleh gigitan nyamuk yang rentan dan berkembang biak di musim penghujan. Nyamuk ini paling suka berkembang biak di genangan air yang bersih dan di tempat yang lembap,” ujar Roni. Roni pun meminta warga segera memeriksakan diri atau keluarga jika mengalami panas tinggi dan tidak segera turun. Ini karena banyak warga yang tidak mengetahui gejala DBD, dan itu bisa berakibat fatal.

    ”Gejala DBD ini biasanya panas tinggi pada hari pertama sampai hari keempat. Pada hari keempat, panasnya bisa turun secara mendadak setelah itu. Biasanya orang tua akan mengira jika dengan panas yang turun, kondisi anak dinyatakan sembuh. Padahal, itu yang harus diwaspadai sebab trombositnya telah turun dan kondisi penderita semakin lemah sehingga kaki dan tangannya mulai dingin,” urai Roni.

    Dari data RSUD Caruban tren angka kejadian kasus DBD periode 2015 sebanyak 397 kasus. Dari jumlah itu, pasien positif DF 169 kasus, pasien positif DHF 213 kasus, dan pasien positif Dengue shock syndrome 15 kasus.
    Sumber : http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=13&date=2016-02-01

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728