Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Hutan Madiun Simpan 36 Jenis Satwa Langka


    MADIUN (KR) - Kawasan hutan milik Perhutani Madiun yang berada di Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur (Jatim) tidak hanya menjadi tempat hidup bagi jutaan pohon.
    Tetapi di hutan yang dikelola Kelompok Pengelolaan Hutan (KPH) Madiun ini menjadi tempat bagi ratusan satwa. Ada 36 jenis satwa langka dan dilindungi yang hidup di kawasan hutan milik Perhutani itu.
    Petugas Kelompok Pengelolaan Hutan Perhutani Madiun, Nur Cahyo, 36, mengatakan saat ini ada 36 jenis satwa langka dan berstatus dilindungi yang hidup secara liar di hutan yang terletak di Kecamatan Dagangan itu. Satwa tersebut tersebar secara liar di hutan yang memiliki luas 680 hektare.
    Cahyo mengatakan 36 jenis satwa yaitu burung Pijantung Gunung Jantan, burung Elang Alap Jambul, burung Cekakak Jawa, burung Madu Pengantin, burung Branjangan/Prenjak Coklat, burung Pjantung Gunung Betina.
    Adapula burung Madu Kelapa, burung Elang Bido, burung Alap-alap Layang, burung Ciblek/Cinenen Pisang, burung Madu Sriganti, burung Cekakak Merah, burung Puyuh Gonggong Jawa Gemak Loreng, burung Elang Jawa, burung Kuntul.
    Selain itu, ada burung Alap-alap Sapi, burung Bangau Tong-tong, burung Punglor Bata/Bubut Jawa, burung Baranjangan Jantan Kipas, burung Alap-alap Layang, burung Alap-alap Kelelawar, burung Merak, burung Manyar Emas, burung Cica Daun Kecil, burung Bentet Kelabu, burung Cabak Maling, burung Hantu, burung Pergam, dan ayam hutan.
    Lebih lanjut, kata Cahyo, hewan yang dilindungi di hutan Madiun adalah Landak, Bajing, Kijang, Tupai, Trenggiling, Tikus Raksasa Ekor Panjang, dan Monyet Ekor Panjang.
    Cahyo menyampaikan untuk jumlah satwa tersebut sampai saat ini belum terdata. Namun, dia memprediksi satwa liar di hutan Madiun berjumlah ratusan.
    “Sulit lah untuk mendata satwa itu, hidup satwa itu kan liar. Di sini burung Merak jumlahnya masih banyak,” kata Cahyo saat berbincang dengan Madiunpos.com di posko KPH Madiun, Senin (8/2/2016).
    Dia menuturkan satwa tersebut tidak boleh diburu dan ditangkap untuk dijadikan hewan peliharaan. Hutan Madiun terbuka untuk umum dan semua orang bisa menikmati alam yang ada di hutan ini. Tetapi, pengunjung tidak diperkenankan merusak atau memburu satwa dilindungi.
    “Pengunjung boleh membawa senapan dan berburu di hutan ini, tetapi tidak boleh memburu satwa yang dilindungi,” jelas warga Ponorogo ini.
    Cahyo bercerita di hutan Madiun ini juga masih ada harimau. Hal ini didasarkan dari petugas KPH Madiun yang pernah melihat dua ekor harimau di dalam hutan beberapa waktu lalu. Namun, keberadaan harimau tersebut memang belum didata petugas.
    Dia mengajak masyarakat untuk melestarikan dan menyelamatkan ekosistem alam dengan tidak memburu satwa langka di hutan Madiun. Menurut dia, ketika ada salah satu satwa yang punah akan membuat ekosistem yang sudah terbangun akan rusak.
    Sumber : http://surabaya.bisnis.com/read/20160210/4/86434/hutan-madiun-simpan-36-jenis-satwa-langka

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728