Header Ads

ad728
  • Breaking News

    BPS Akhirnya Akui Madiun Tak Ikut Deflasi


    MADIUN (KR) — Kota Madiun tetap inflasi pada Oktober 2015 lalu meskipun empat kota pantauan indeks harga konsumen (IHK) di Jatim hustru deflasi. BPS Kota Madiun menyebut kenaikan harga wortel sebagai pemicu inflasi Kota Madiun yang mencapai 0,10% dengan IHK 119,09 itu.
    Pada awal bulan Novenber 2015 ini, Madiunpos.com yang meminta konfirmasi BPS Kota Madiun atas inflasi yang lestari di Madiun itu tidak mendapatkan penjelasan memadai. BPS Kota Madiun memilih memublikasikan data September 2015.
    Menyertai publikasi terlambat data inflasi Kota Madiun bulan Oktober 2015 oleh BPS Kota Madiun itu, Kantor Berita Antara melaporkan harga wortel di sejumlah pasar tradisional naik signifikan sejak sebulan terakhir.
    Dengan mengaitkan data inflasi Kota Madiun Oktober 2015 itu, Antara melaporkan harga wortel saat ini berkisar antara Rp11.000/kg hingga Rp14.000/kg. Angka itu, menurut Antara, naik dari harga normal yang mencapai Rp7.000.kg. Antara dalam publikasi nasional tak sedikit pun menyinggung harga wortel di Madiun pada Oktober 2015 lalu dalam naskah berita itu.
    “Inflasi di Kota Madiun terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh adanya perubahan indeks pada beberapa kelompok pengeluaran,” papar Kasie Statistik Distribusi BPS Kota Madiun, Sri Marheningrum dalam siaran pers yang disebarluaskan Kantor Berita Antara dari Madiun, Kamis (12/11/2015).
    Ini Pemicunya
    Dipaparkan pula dalam publikasi BPS Kota Madiun yang disebarluaskan Kantor Berita Antara dari Madiun itu beberapa kelompok pengeluaran naik harga itu antara lain kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau yang mencapai 0,93%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,20%; kelompok kesehatan sebesar 0,42%; serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,06%.
    Menurut Sri Marheningrum dalam siaran pers yang disebarluaskan Kantor Berita Antara dari Madiun, sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga di Madiun antara lain nasi dengan lauk, mi, wortel, bawang merah, dan tukang—bukan mandor. Sedangkan, beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami perubahan indeks negatif antara lain, kelompok bahan makanan sebesar -0,65 persen; kelompok sandang sebesar -0,27; dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar -0,04 persen.
    Lebih lanjut Sri Marheningrum dalam siaran pers yang disebarluaskan Kantor Berita Antara dari Madiun itu memaparkan komoditas yang mengalami penurunan harga dan menekan laju inflasi itu antara lain cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, bayam, dan pepaya.
    Madiun Tetap Inflasi
    Sebagaimana dicatat Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI)—kelompok media massa yang juga menaungi Madiunpos.com, provinsi Jawa Timur kembali defllasi 0,19%, Oktober 2015 lalu, setelah sebelumnya mencatatkan kondisi tersebut Februari 2015 silam. Deflasi Jatim dan empat kota pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim itu tak mampu diikuti Madiun yang melestarikan inflasi 0,10%.
    Inflasi Madiun itu bukan yang tertinggi di antara empat kota pemantauan IHK Jatim. Kondisi terburuk terjadi di Sumenep yang mencatatkan inflasi 0,15% dengan IHK sebesar 119,09. Madiun menjadi runner up dengan inflasi 0,10 % dengan IHK 119.09, Kota Malang mengalami inflasi 0,03 % dengan IHK 121.83, sedangkan Probolinggo inflasi 0,02 % dengan IHK 120,67.
    Kondisi itu berbeda dengan Surabaya yang mencatatkan deflasi -0,34 % dengan IHK sebesar 120.73, Banyuwangi -0,25 % dengan IHK 119.15, Jember -0,05 % dengan IHK 119,46 dan Kediri -0,04 dengan IHK 119,91.
    Sumber : http://jogja.solopos.com/baca/2015/11/12/inflasi-madiun-bps-akhirnya-akui-madiun-tak-ikut-deflasi-660733

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728