Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Jeruk Pamelo Magetan, Potensi Besar yang Masih Terpendam



    MAGETAN (KR) - Indonesia memang kaya plasma nutfah. Salah satunya adalah jeruk Pamelo dari Magetan, Jawa Timur. Jeruk yang berukuran besar ini ternyata mempunyai rasa yang manis dan segar.
    Jika melihat penampakan dari luar memang kurang meyakinkan, karena warna kulitnya hijau. Bahkan terkesan rasanya sepat seperti jeruk Bali atau jeruk Pamelo Pangkep Sulawesi Selatan. Namun ketika mencoba, kesan tersebut pasti akan kita buang jauh ‘kelaut’.
    Saat kulitnya dibuka, warna daging buahnya merah. “Coba saja, pasti ketagihan. Rasanya manis,” ujar Kepada Desa Bibis Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, Hartatik kepada Sinar Tani, beberapa waktu lalu. Terbukti. ketika Sinar Tani mencoba ternyata membuat ketagihan. Rasanya manis dan segar. Apalagi dimakan siang hari ketika terik matahari menyengat.
    Pengalaman menarik juga pernah terjadi pada Sudino, Ketua Asosiasi Jeruk Pamelo, Magetan. Saat mengikuti pameran, ada pengunjung yang menolak mencoba jeruk Pamelo Magetan dengan alasan rasanya sepat (asem). “Setelah mereka mencicipi ternyata rasa manis dan minta lagi,” ujarnya.
    Pembina Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lumbung Makmur, Desa Bibis, Kecamatan Sukomoro, Magetan, Sadino mengakui, Magetan merupakan sentra produksi jeruk Pamelo, khususnya di Kecamatan Sukomoro. Basis jeruk Pamelo berada di Desa Bendo, Takeran, Sukomoro dan Kawedanan dengan total luas areal sekitar 78 ha. “Yang terluas berada di Desa Bibis,” katanya.
    Data Dinas Pertanian Magetan, terdapat sekitar 400 ribu pohon jeruk jenis Pamelo. Dari jumlah tersebut 70 persen berada di Kcamatan Sukomoro. Sejak tahun 2014, Pemda Magetan melakukan rehabilitasi kebun milik petani, termasuk memberikan penyuluhan mengenai GAP (good agriculture practices).
    Menurut Sadino, sejarahnya tanam jeruk Pamelo di Magetan sudah ada secara alami dan berkembang di masyarakat dengan cara pencangkokan secara turun temurun. Bahkan hingga kini tiap rumah ada tanaman jeruk Pamelo “Dahulu memang belum dikembangkan secara pertanian modern, tapi masih tradisional,” katanya.
    Identifikasi Jenis Jeruk
    Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Tri Sudaryono mengatakan, dalam upaya menyelamatkan keanekaragaman hayati, sejak lima tahun lalu pihaknya mengadakan identifikasi jenis jeruk di Magetan. Hasil identifikasi ternyata ada banyak jenis jeruk, sekitar 16 jenis jeruk dan 6 spesies.
    Diantaranya, jerus Pamelo Adas Nambangan, Adas Duku, Pamelo Magetan, Sri Nyonya, Bali Merah. Bali Putih, Jeruk Gulung, Jeruk Jowo, Jeruk Purut, Sunkiest, Pecel Nipis dan Sitrum. “Untuk mengetahui kesukaan masyarakat, kami mengadakan survei dan membuat rangking,” katanya.
    Hasilnya, jeruk jenis Adas Duku memilik skor 59, Pamelo Magetan (skor 57), Nambangan (skor 75), jeruk Gulung (skor 55), Bali Putih (skor 55), Bali Merah (skor 54) dan Sri Nyonya (skor 53). “Tanaman jeruk jenis lain kurang mendapat apresiasi karena pemanfaatannya kurang,” ujarnya.
    Skor tersebut diambil dari beberapa preferensi. Yakni, bentuknya, rasa, daya simpan, harga, warna kulit buah, warna daging buah. usia tanaman, ketahanan terhadap organisme pengganggu tumbuhan (OPT), pemanfaatan untuk olahan dan pengobatan,  kesukaan konsumen, serta ukuran berat dan produktifitas tanaman.
    Menurut Tri Sudaryanto, kelebihan lain jeruk besar ketimbang jeruk kecil adalah tidak hanya mengandung vitanmin C, tapi juga mengadung zat untuk menurunkan koletesrol, anti oksidan dan mencegah kanker. “Kandungan lainnya adalah asam folat yang bisa menyehatkan janin bayi,” paparnya.
    Kepala Pusat Litbang Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, M. Prama Yufdi mengatakan, dengan kekayaan plasma nutfah Indonesia yang cukup besar, termasuk jeruk Pamelo ini, banyak negara lain tertarik untuk mengadakan penelitian. Namun Pemerintah Indonesia bersikap hati-hati, karena kuatir justru kekayaan sumberdaya alam dalam negeri tersebut diakui mereka.
    “Ada permintaan dari luar negeri untuk penelitian. Kenapa dari luar begitu kencang untuk mengadakan penelitian. Karena Indonesia kaya plasma nutfah. Tapi kita tidak ingin. Jadi kita lakukan konservasi untuk menyelamatkan aset negara. Seperti yang kita lakukan di Magetan untuk komoditi jeruk Pamelo yang sudah dilakukan sejak lima tahun lalu,” tuturnya.
    Selain di Magetan, kegiatan konservasi juga dilakukan di Kediri untuk komoditi mangga, Kalimantan Selatan juga komoditi mangga, serta manggis di Sumatera Barat. “Dalam kegiatan ini kita juga tingkatkan kapasitas SDM petani. Bahkan kita memberikan kesempatan petani untuk lihat ke luar ngeri seperti Malaysia, Thailand dan India agar mereka mengetahui cara petani luar negeri mengelola sumberdaya alam,” ujarnya. Yul

    Sumber : http://tabloidsinartani.com/read-detail/read/jeruk-pamelo-magetan-potensi-besar-yang-masih-terpendam/

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728