Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Ternyata, Santri Zaman Dulu Tak Hanya Menguasai Ilmu Agama

     
    MADIUN (KR) – Satu di antara sekian situs sejarah bernilai tinggi ialah Masjid Sewulan. Masjid yang berdiri di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun ini menjadi sebuah bukti bahwa santri zaman dulu tak hanya menguasai ilmu agama. Melainkan juga menguasai ilmu sosial, budaya, strategi tempur, dan tentu saja karomah yang luar biasa.

    Madiun pos bersama rombongan Historia Van Madioen menyempatkan diri berkunjung ke masjid yang didirikan Ki Bagus Harun atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Ageng Basyariah ini, Minggu (28/6/2015). Tak hanya masjid, sejumlah situs seperti makam Kiai Ageng Basyariah dan keluarganya, pusat pemerintahan Sewulan sebagai tanah perdikan, serta sejumlah tokoh dan keturunan Kiai Ageng Basyariah juga ditemui.
    HM Baidhowi, sesepuh sekaligus pemerhati sejarah situs Sewulan menjelaskan, kawasan Sewulan merupakan hadiah dari Keraton Kasunanan Surakarta di era Paku Buwono (PB) II. Lantaran jasa-jasa besar Kiai Ageng Basyariah dalam menumpas para pemberontak keraton, tepatnya 20 Desember 1742, PB II memberikan tanah perdikan yang cukup luas di area Madiun dan sekitarnya.
    “Kiai Ageng Basyariah lantas mendirikan pesantren, masjid serta pusat pemerintahan di Sewulan ini. wilayahnya, selain sewulan, juga mencakup Kediri, Nganjuk,Tulungagung, Jombang, Ponorogo dan sekitarnya,” ujarnya saat berbincang dengan Madiun Pos.

    Kiai Ageng Basyariah, seperti yang tertulis di berbagai sumber sahih, kata Baidhowi, adalah salah satu santri kesayangan kiai terkemuka asal Tegalsari Ponorogo, Kiai Ageng Besari. Selama menyantri, Kiai Ageng Basyariah juga rajin melakukan riyadhoh, mendalami ilmu thoriqoh, makrifat, dan hakikat bersama maha gurunya itu.
    Karena kecerdasann dan kelebihannya pula, Kiai Ageng Basyariah mendapatkan mandat dari gurunya untuk membantu PB II menumpas para pemberontak keraton yang terkenal sakti mandraguna, salah satunya Raden Mas Garendi beserta pengikutnya. Dengan karomahnya, Kiai Ageng Basyariah berhasil menaklukkan para pemberontak dan memulihkan kejayaan Keraton.
    Dari sini, dapat dilihat bahwa Kiai Ageng Basyariah sebagai seorang santri juga memiliki ilmu strategi perang dan karomah luar biasa. Ketika ia diberikan tanah perdikan oleh PB II, Kiai Ageng Basyariah juga tak begitu saja menerimanya lantaran sikap tawaduk dan keikhlasannya. Ia baru menerima setelah diminta gurunya untuk menerimanya.
    Begitu pun ketika mendirikan pesantren dan masjid di Sewulan, ia juga sangat piawai membaca kondisi sosial, budaya, serta geografis masyarakat setempat. Hal itu terlihatdari corak dia membangun masjid yang penuh dengan simbol-simbol budaya sebagai upaya memasukkan nilai Islam. Di antaranya, dibangun gapura, ditanami pohon sawo kecik, kolam di depan masjid, serta arsitektur masjid.
    Nilai-nilai Islam inilah yang diwariskan oleh Kiai Ageng Basyariah kepada para pengikut dan keturunannya. Dan sejumlah keturunan Kiai Ageng Basyariah yang tetap dikenang hingga saat ini ialah pendiri Nahdhatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, hingga mantan Presdien Abdurahman Wahid alias Gus Dur.

    Sumber : http://jogja.solopos.com/baca/2015/06/29/masjid-sewulan-ternyata-santri-zaman-dulu-tak-hanya-menguasai-ilmu-agama-619093

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728