Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Lokalisasi Kedung Banteng Ponorogo Resmi Ditutup


    PONOROGO (KR) - Permasalahan social berupa adanya Pekerja Sex Komersial ( PSK ) di kabupaten Ponorogo, kiranya harus disikapi dengan bijaksana. Pasalnya, Lokalisasi Kedung Banteng yang terletak di Desa Kedung Banteng, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur resmi ditutup. Sehingga jika tidak disikapi dengan bijaksana maka pasca penutupan akan menjadi permasalahan tersendiri.
    Namun, hal tersebut juga telah disikapi dengan bijaksana oleh Dinsosnakertrans yang dikomandani oleh Dr. H Sumani selaku kepala Dinsosnakertrans Ponorogo, dimana selain menggelontorkan berbagi dana untuk peningkatan kesejahteraan, pihak Dinsosnakertrans juga membuat posko – posko serta monev lapang, sehingga diharapkan PSK bisa kembali menjalani hidupnya dengan normal dan tidak berkeliaran disembarang tempat.
    Penutupan lokalisasi itu sendiri  secara formalitas langsung dilakukan oleh Menteri Sosial (Mensos) RI, Hj. Khofifah Indar Parawansa di Lapangan Desa Kedung Banteng Ponorogo. Dimana pada deklarasi penutupan lokalisasi tersebut juga dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat termasuk  tokoh agama, Forum Komunikasi Pondok Pesantren, tokoh masyarakat, Kepolisian, TNI,  dan berbagai ormas, Menteri Sosial RI Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa menyampaikan penutupan lokalisasi Kedung Banteng ini sebenarnya target 2014 lalu yang dilakukan serentak di Jawa Timur, namun secara resmi baru bisa dilakukan tahun ini.
    Dalam penutupan tersebut, Pemerintah  juga menyerahan bantuan kepada 176 PSK penghuni lokalisasi, dengan total dana bantuan mencapai Rp 888,800,000 juta rupiah. Sejumlah bantuan yang diberikan hanya untuk para PSK saja. Sementara untuk para mucikari merupakan tanggung jawab dari Pemerintah Daerah.
    “Kami gelontorkan dana untuk Usaha Ekonomi Produktif (UEP) hanya kepada eks PSK yang jumlahnya 3 juta/orang, sebagai modal usaha, selain itu juga kita berikan bantuan JADU (Jaminan Hidup) yaitu bantuan hidup mereka selama tiga bulan sebesar 20 ribu kali 90 hari, dan masih ada bantuan uang transport kepulangan dari lokalisasi,”Tambah Khofifah.
    Sementara itu, Kepala Bakorwil Madiun Dr. Gatot Hendro Priono, SH, M.Hum saat membacakan sambutan Gubernur Jawa timur mengatakan, di Jawa Timur pada awal tahun 2011 ada 47 lokalisasi dengan jumlah penghuni  sebanyak 7127, 45 lokalisasi sudah ditutup tinggal 2 lokalisasi dengan  penghuni sebanyak 256 PSK.
    Perlu diketahui bahwa Lokalisasi Kedung Banteng di huni oleh sebanyak 39 mucikari, 176 PSK,  terdiri dari 20 berasal dari Ponorogo, dan 156 berasal dari luar Ponorogo ini tidak hanya di tutup begitu saja namun sebelumnya telah mendapatkan berbagai pemberdayaan dengan pelatihan ketrampilan baik dari dinas sosial, kementrian sosial yang bekerja sama dengan balai latihan kerja.
    Kepala Dinsosnakertrans Ponorogo Dr. H. Sumani mengatakan, langkah penutupan lokalisasi yang menjadi agenda kebijakan Pemprov Jatim itu dengan tujuan agar para PSK dapat menjalankan fungsi- fungsi sosialnya secara layak dan dapat diterima dimasyarakat.
    Dr. H. Sumani  menambahkan, langkah-langkah  yang telah dilakukan melakukan Pembinaan terpadu dan pemberdayaan seluruh PSK melalui pelatihan ketrampilan dari satker yang terkait, mengumpulkan semua dinas yang terkait dan semua elemen masyarakat yakni ulama, melakukan  koordinasi dengan Muspika Sukorejo dan Pemdes Kedung Banteng.
    “Yaach yang jelas mohon kiranya pemerintah Pusat bisa membantu , dimana Bekas lokalisasi nantinya dapat dilakukan aktifitas ekologi baru, sekali lagi terkait dengan hal tersebut maka kami mohon bantuan dari Kementrian Sosial dan Pemerintah Daerah,” tandasnya.
    Sumber : http://megapos.co/2015/06/18/lokalisasi-kedung-banteng-ponorogo-resmi-ditutup/

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728