Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Inilah Saksi Bisu bahwa Warga Tionghoa Madiun Pernah Memiliki Pemimpin Sendiri


    MADIUN (KR) – Gedung tua itu masih berdiri kokoh di selatan Alun-Alun Kota Madiun seberang jalan raya. Barangkali tak banyak yang tahu bahwa gedung bergaya Eropa dan berlanggam victorian itu adalah saksi bisu atas andil besar warga Cina dalam dinamika Kota Madiun.
    Akhir Mei lalu, para pegiat sejarah Kota Madiun bersama sejumlah warga Cina yang lahir di Madiun menyempatkkan diri mengunjungi dan melakukan ziarah sejarah di gedung tua itu. Kunjungan itu menjadi semacam pengobat rindu setelah sekian puluh tahun tinggal dan menetap menjadi warga Belanda.
    Dikutip Madiun Pos dari salah satu grup media sosial Historia Van Madioen, gedung tersebut merupakan kediaman pribadi warga Cina bernama Njoo Swie Lian. Njoo tercatat sebagai Kapten Cina Madiun yang diangkat oleh Residen Madiun sebagai pemimpin warga Tionghoa di Madiun tahun 1910 sampai wafatnya 1930.
    Lalu apa yang menjadi kelebihan Kapt. Njoo?
    Sebelum kotapraja atau gementee Madiun dibentuk 1918, pemerintahan residen Madiun membagi wilayah Madiun menjadi beberapa afdeling, yaitu Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, dan Magetan. Masing-masing afdeling dibagi menjadi beberapa distrik. Dan di bawah distrik ada beberapa onder distrik.
    Distrik Madiun yang merupakan wilayah di bawah afdeling Madiun, dihuni oleh banyak orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Termasuk warga Cina yang jumlahnya pada tahun 1910 mencapai 30% dari total populasi penduduk di distrik Madiun.
    Karena populasinya yang banyak, pemerintah Belanda mengangkat salah satu diantara mereka sebagai pimpinan warga Cina di Madiun. Mengingat Madiun saat itu adalah sebuah residen, maka kepangkatan pemimpin Cina tersebut setingkat Kapten dan membawahi beberapa Letnan.
    Sebagai Kapten Cina Madiun, Njoo membawahi Letnan Cina Madioen, Maospati, Magetan, Caruban, Ponorogo dan Ngawi. Selain mengawasi warga Cina di wilayahnya, Kapt. Njo juga bertugas sebagai pemungut pajak atas usaha-usaha yang dilakukan oleh warga Cina di wilayah Madiun, termasuk menghimpun sumbangan-sumbangan untuk keperluan fasilitas umum di Madiun. Pada saat itu, sejumlah sumbangan di antaranya untuk pembangunan rumah sakit, gereja Katholik dan Protestan, sekolah-sekolah dan pasar.
    Sumbangan terbesar yang tercatat dalam beberapa dokumen lama di antaranya, pembangunan Klenteng Madiun, pembangunan rumah sakit (gedungnya sudah hilang, sekarang menjadi kantor Polsekta Manguharjo), pengadaan mebeler untuk gereja St. Cornelius, pendirian sekolah Taman Kanak-kanak dan Chinese Hollandsch School (sekarang menjadi SMP 6 Madiun).
    Rumah Kapt. Njoo saat ini masih bisa dilihat dan ditemukan, berada di selatan Alun-Alun Madiun seberang kalan raya. Bangunan dengan gaya Eropa dan berlanggam Victorian ini sekarang berfungsi sebagai gudang penyimpanan produk minuman.

    Sumber : http://www.madiunpos.com/2015/06/28/heritage-madiun-inilah-saksi-bisu-bahwa-warga-cina-madiun-pernah-memiliki-pemimpin-sendiri-618729

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728