Header Ads

ad728
  • Breaking News

    BPPKB Ngawi Terus Kejar TFR Pada Level Ideal



    NGAWI (KR) - Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang dihitung berdasarkan jumlah kelahiran dari wanita usia subur dalam kurun 10 tahun terakhir ternyata tidak menurun. Mengacu data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) 2012, laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,5 persen jauh dari angka ideal yang semestinya di bawah 1 persen. Data tersebut membuat Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Ngawi terus berupaya menekan rata-rata jumlah anak yang lahir dengan mengurangi angka kelahiran usia wanita subur 15–29 tahun atau total fertility rate (TFR).
    Sugeng Pamianto Kasubid Ketahanan Keluarga BPPKB Kabupaten Ngawi membeberkan program KB akan berhasil dan sukses diterapkan bisa dilihat dari indikatornya yakni TFR dan laju pertumbuhan penduduk yang terus menurun. “Setiap daerah pasti ada kendalanya untuk menekan angka kelahiran seperti halnya di Ngawi ini. Misalkan kendala perubahan lingkungan teknis karena desentralisasi dan terbatasnya jumlah petugas, namun di Ngawi ini program KB sudah on the track dan terwujud,” ungkap Sugeng Pamianto saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (10/06).
    Dia mengaku optimis realisasi program KB akan berhasil mendasar TFR angka setiap tahunya terus mengalami perubahan menuju angka ideal 2,0 seperti tahun 2010 – 2,06, 2012 – 2,40 dan terakhir data yang diperoleh pada 2013 – 2,19. Masih Sugeng, pertambahan penduduk pada periode bonus demografi nanti ada beberapa faktor sesuai asumsinya yakni fertilitas (kelahiran), mortalitas (kematian) dan migrasi (perpindahan penduduk). Bicara kendala TFR diakuinya, persentase bagi pasangan KB yang memakai hormonal masih relative tinggi dibanding pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
    Sesuai data per Desember 2014 lalu diketahui untuk hormonal meliputi suntik 72.493 orang, pil KB 15.539 orang dan implant mencapai 12.520 orang. Sedang MKJP angkanya masih cukup kecil seperti KB spiral atau Intra Uterine Device (IUD) baru 30.861 orang, Modus Operandi Wanita (MOW) sekitar 72.061 dan Modus Operandi Pria (MOP) jumlahnya belum memuaskan baru 359 orang. “Seharusnya kalau dijumlah total angka MKJP harus lebih besar daripada hormonal. Dan itu nantinya menjadi dasar evaluasi kita,” sambung Sugeng Pamianto.
    Untuk menyukseskan MKJP ujarnya, memang membutuhkan advokasi lini lapangan yang melibatkan pihak tertentu selain itu meningkatkan akses dan promosi dan pelayanan KB pria di setiap kecamatan ditambah intensifikasi dan eksentifikasi penggarapan dan pembinaan kelompok KB pria. Sedangkan mengenai laju pertumbuhan penduduk (LPP) di di Kabupaten Ngawi yang terbagi 19 wilayah kecamatan sampai akhir 2014 lalu berkisar pada angka 0,06 persen. Artinya angka tersebut laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Ngawi tidak mengalami kenaikan secara signifikan.
    Berikut data jumlah Kepala Keluarga (KK) maupun jumlah jiwa di Kabupaten Ngawi mulai tahun 2012 jumlah KK mencapai 282.013 dari 897.908 jiwa, sedang setahun kemudian 2013 KK mencapai 286.032 dari 906.204 jiwa dan terakhir tahun 2014 lalu jumlah KK mencapai 289.397 dari 905.037 jiwa.
    Sementara Indah Kusumawardhani Kepala BPPKB Kabupaten Ngawi menegaskan proyeksi dari tahun ketahun program KB terus dibranding melalui program yang ada. Hal lain diakui Dhanik, menyangkut MKJP maka akan mengurangi tingkat DO serta mengurangi faktor kegagalan kontrasepsi, menekan TFR dan mengurangi jumlah penduduk, dan menghindari risiko masalah-masalah ekonomi dan sosial masyarakat. Dan yang pasti, program KB dua anak cukup akan tercapai.

    Sumber : http://www.siagaindonesia.com/2015/06/bppkb-ngawi-terus-kejar-tfr-pada-level-ideal

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728