Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Magetan Kekurangan Tandon Air Raksasa

    MAGETAN (KR) – Wilayah Magetan bagian selatan berpotensi mengalami krisis air. Ini lantaran jumlah ketersediaan air di embung Joketro (Parang) dan waduk Gonggang (Poncol) mulai menipis. Padahal permintaan air khususnya untuk sektor pertanian cukup tinggi. ‘’Potensi kekeringan panjang bisa terjadi pada tahun ini, terutama di wilayah selatan,’’ kata Kepala DPU Pengairan Purnomo kepada Jawa Pos Radar Lawu, kemarin (27/5).
    Dijelaskan, sebenarnya jumlah tandon air raksasa di Magetan masih kurang. Saat ini, yang dimiliki hanya delapan embung dan dua waduk. Namun dibanding dengan kebutuhan air jumlah itu masih kurang. ‘’Jumlah waduk dan embung masih sangat kurang sekali di Magetan ini, itu jadi salah satu masalah yang coba kami pecahkan saat ini,’’ ujarnya.
    Permasalahan lainnya, pintu air di Joketro juga rusak beberapa waktu ini. Itu diketahui, setelah pihaknya menerima informasi dari warga sekitar yang kesulitan air. Kerusakan tersebut juga membuat embung tak berfungsi optimal menampung ketersediaan air bagi para petani setempat. Padahal saat ini padi di sekitar wilayah tersebut baru masuk proses tanam. Sehingga membutuhkan air yang tidak sedikit. ‘’Untuk kebutuhan sekarang saja kami sudah membuka waduk Gonggang dan Sarangan, beda dari tahun sebelumnya,’’ imbuhnya.
    Pihak DPU pengairan sudah mengajukan permohonan perbaikan pada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk memperbaiki pintu air yang rusak tersebut. Namun, belum ada respons positif dari BBWS Bengawan Solo untuk melakukan perbaikan itu. Purnomo mengaku tidak bisa berbuat apa-apa, lantaran embung tersebut merupakan wilayah tanggung jawab BBWS Bengawan Solo. ‘’Sampai saat ini belum ada penyerahan tugas dari BBWS Bengawan Solo untuk perbaikan itu (pintu air, Red),’’ imbuhnya.
    Selain upaya perbaikan, pihaknya juga mengajukan pembangunan tambahan waduk dan embung di wilayah Magetan. Saat ini, pengajuan tersebut masih dalam proses uji kelayakan. Dia berharap pengajuan tersebut disetujui, sehingga jumlah tampungan air di Magetan lebih optimal. Purnomo membeberkan pihaknya sudah mengajukan permohonan ke BBWS Bengawan Solo untuk mengalirkan air 300 liter per detik untuk kebutuhan petani, dan 35 liter per detik untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lawu Tirta. ‘’Kalau tidak ada permintaan suplai air kami matikan supaya bisa memenuhi kebutuhan PDAM,’’ jelasnya.
    Disisi lain, DPU pengairan sudah mengadakan pertemuan dengan komisi irigasi yang terdiri dari perwakilan petani, pemerintah, PDAM, dan pengguna air lainnya yang tergabung membahas masalah tersebut. Tim yang dipimpin langsung Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Magetan Sumarjoko itu mencari cara pemecahan persoalan yang dihadapi. ‘’Sudah kami bicarakan, dan akan kami cari jalan keluarnya, bagaimana agar musim kering maupun hujan kebutuhan air tetap stabil,’’ pungkasnya.
    Sumber : http://www.radarmadiun.info/blog/2015/05/magetan-kekurangan-tandon-air-raksasa/

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728